Music

Jumat, September 11, 2015

Aku Panortor

Hi bloggerizen!

Kali ini saya mau bercerita tentang salah satu hobi yang sedang saya eksplore...(TORTOR) !
Yups, sejak kecil saya sangat menyukai dunia artistik seperti; seni peran, tulis, gambar, seni gerak dan tari (kecuali seni suara dan musik haha).
Tapi, hal yang lebih sering saya eksplore adalah seni gerak dan tari. Hal ini sangat terlihat ketika tubuh saya "merespon" lagu dengan gerak tanpa sadar.
Saya mulai mengikuti perlombaan ke perlombaan dan mengisi acara ke acara. Tari Tortor pertama kali saya mulai ketika tampil disebuah acara di gereja.

Sebelum saya masuk lebih jauh mengenai cerita pribadi, saya akan lebih dulu mengenalkan apa itu TORTOR...


Tortor adalah tarian seremonial dari suku Batak yang disajikan dengan musik gondang. 
Secara fisik sih tortor merupakan tarian, namun makna gerak pada tarian tortor menunjukkan bahwa tortor adalah sebuah media komunikasi  melalui gerakan yang disajikan dan menunjukkan terjadi interaksi antara partisipan upacara.

Tortor itu sendiri sering ditampilkan disetiap acara-acara kesukuan, seperti :
1. Margondang pesta ;
2. Margondang adat ;
3. Margondang religi.

Dan tari tortor pun semakin berkembang dari masa ke masa, sehingga semakin banyak kreasi-kreasi tortor yang ditambahkan untuk memperindah gerakan.

Sekilas singkat pengenalan akan tortor, mari kita kembali ke cerita awal mula saya menjadi seorang Panortor (baca: pelaku tari tortor).

Awal mula hobi saya menjadi sebuah profesi ketika teman saya mengajak saya menari tortor disebuah gedung pertemuan (Nahanson Parapat), dia bilang, "Ter, lu mau jadi panortor gak di acara pernikahan?". Tanpa bepikir panjang saya hanya bertanya dimana saya harus menari dan saya bertemu dengan siapa. 
Dengan wajah ceria saya menghampiri bapak saya dan bilang, "Pak, aku diajak tortor sama temen aku!?!". Bapak saya saat itu terheran dan bertanya, "Kamu yakin? emang bisa nortor?".
Lalu saya menjawab, "mmm...peluang bagus ini pak. Bapak antar aku ke gedung  nahanson yak..."
Singkat cerita dengan peralatan make up seadanya (punya mama) dan sepatu heels, kami bersiap dan berangkat ke gedung pertemuan tersebut.

Tiba disana, saya tidak mendapati teman saya ada disana, melainkan teman dari teman saya (haha ini keadaan yang sungguh membuat saya demam panggung).
Saya berjabatan tangan dengan teman dari teman saya dan berkenalan (sebut saja namanya mawar).
Mawar mengajak saya untuk merias wajah, saya pun mengkutinya, namun, sebelumnya saya lebih dulu menjabat tangan bapak saya sambil berkata, "Pak doain".
Bapak saya tidak langsung pulang saat itu, beliau menunggu saya sambil minum di kantin gedung.
Setelah saya selesai merias wajah, saya menghampiri bapak dan bilang, "Pak aku mau nari nih, doain ya". Setelah percakapan singkat kami berakhir, bapak saya berangkat kerja.

And yeeesss, you know what?? Saya pun tampil di acara tersebut dengan gerakan yang terpatah-patah karena rasa nervous dan lupa geraknya (haha tapi saya tetap tersenyum).
Setelah acara selesai, seorang pemusik menghampiri saya dan meminta kartu nama saya, supaya kalau ada acara lagi dapat dihubungi.
Sejak saat itu mulailah berdatangan panggilan manortor untuk acara ke acara disetiap gedung.


Foto awal mula saya menjadi Panortor bersama 2 (dua) orang rekan saya.

Banyak gedung yang sudah saya jajaki, dan sering kali saya bertemu dengan orang-orang yang saya kenal; teman, kerabat dan keluarga.
Mereka bertanya-tanya mengapa saya bisa menjadi salah satu penari tortor dan cukup sering saya dipuji "Sudah jarang ada anak muda batak lahir di kota suka dengan budayanya", begitu kata para orang tua yang melihat saya.
Relasi-relasi saya pun di dunia tortor semakin luas dan tawaran datang bukan hanya di menari di gedung, tapi di acara adat di hotel, gereja, mengikuti pawai kebudayaan di Monumen Nasional (Monas) dan ditawari untuk shooting video klip batak.


Foto pertama saya saat mengikuti Shooting video klip disebuah hotel besar di daerah Bogor.

 Foto bersama rekan-rekan ketika shooting video klip.


Foto bersama partner seperjuangan dalam kuliah dan tari.



Foto bersama rekan saya ketika mengisi acara pawai kebudayaan di Monumen Nasional
(saya dan rekan menari tarian dari daerah Kalimantan)

Genap 2 (dua) tahun saya menjadi seorang panortor, saya diberikan kesempatan untuk berbagi ilmu dengan adik-adik saya, dimana saya mulai membaginya dengan teman-teman satu gereja. Tidak sampai disitu, saya pun membagi ilmu dan saling belajar di gereja lain dan acara-acara adat batak. Saya tidak mengajar memang, saya hanya senang menari tortor. Dengan cara dan materi sederhana saya membagi ilmu kepada adik-adik dan teman-teman saya.


Foto bersama adik-adik ketika acara di Gereja kami.
 
 Foto bersama rekan di acara Pesta Gondang di gereja.

Posisi perpindahan gerak pada saat berbagi ilmu tari.

Kecintaan saya terhadap budaya batak dan tortor timbul bukan karena saya menjadi seorang panortor, melainkan itu sudah tertanam sejak saya kecil. Karena orang tua saya sering kali mendongenkan saya mengenai Raja-raja Batak sebelum tidur. Dari cerita-cerita itulah saya mengerti sedikit sejarah Suku Batak dan cerita mengenai Raja-rajanya. Lahir di kota tidak berarti saya menjadi lupa akan budaya yang menjadi identitas saya. Saya pun mempelajari sedikit partuturan batak (baca: silsilah). Dan menjadi seorang panortor membantu saya dalam mencapai keinginan saya untuk berada di dunia artistik seni tari (soalnya saya jadi agak-agak dikenal gitu...hehehe) juga membantu dalam mengeskplorasi kecintaan pada hobi menari tortor yang saya lakoni serta membuat pengetahuan saya akan adat batak semakin bertambah.


 


Ini menyenangkan (dan sedikit menyimpang dari kisah saya diatas, namun tetap ada kolerasi dari keuntungannya haha), karena dengan hobi menari tortor saya mendapat penghasilan sederhana dengan kepuasan juga kebanggaan. Ditulisan pendek saya dengan judul "Dancing with Money" pada sebuah situs, saya menuliskan bahwa dengan manortor saya memiliki sedikit penghasilan pada saat saya duduk dibangku kuliah dan juga memiliki keterampilan lain yang tidak sengaja menjadi terlatih yaitu Make Up/Merias wajah (haha saya mulai sedikit demi sedikit merias wajah dan mengasah keterampilan merias).

Foto dengan wajah dirias. 


Foto dengan wajah di rias.


Sekilas mengenai perjalanan saya dalam menjajaki dunia artistik seni tari Tortor. Jika ada kesempatan saya ingin sekali mengeksplor bakat-bakat dan pengetahuan untuk menambah wawasan dan peluang rejeki. Saya percaya, tidak selalu hal-hal besar dieksplor untuk mendapatkan hasil yang besar. Hal sederhana dalam diri setiap orang jika diberdayakan dan dilatih akan hal yang luar biasa.
Gali dan syukuri apa yang kita miliki dalam diri pribadi...lalu kembangkan...

Saya bangga menjadi representatif dari darah batak yang saya miliki...

Salam hangat penuh cinta,

Esther br. Siburian Nauli :)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar