Music

Kamis, Oktober 30, 2014

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo

       Pasca pemilihan Presiden 2014, Indonesia masuk dalam babak baru. Setelah pelantikan berlangsung Indonesia kini dipimpin oleh sosok yang fenomenal dan bersahaja Joko Widodo, yang akrab disapa dengan Jokowi. Pria kelahiran surakarta ini memulai karier politiknya dengan menjadi Wali Kota Surakarta pada tahun 2005. Sosok Jokowi mulai dikenal setelah dianggap berhasil mengubah wajah kota Surakarta menjadi kota pariwisata, budaya, dan batik. Namanya semakin melambung tinggi dan menjadi sorotan media saat menjadi Gubernur Jakarta. Ia dicanangkan untuk menjadi calon Presiden.



       Dibalik cerita kesuksesan Jokowi, Masa kecil Jokowi bukanlah orang yang berkecukupan, bukanlah orang kaya. Ia anak tukang kayu, nama bapaknya Noto Mihardjo, hidupnya amat prihatin, dia besar di sekitar Bantaran Sungai rumahnya tiga kali digusur. Ia tahu bagaimana menjadi orang miskin dalam artian yang sebenarnya.Sewaktu SD ia berdagang apa saja untuk dikumpulkan biaya sekolah, ia mandiri sejak kecil tak ingin menyusahkan bapaknya yang tukang kayu itu. Ia mengumpulkan uang receh demi receh dan ia celengi di tabungan ayam yang terbuat dari gerabah. Kadang ia juga mengojek payung, membantu ibu-ibu membawa belanjaan, ia jadi kuli panggul. Sejak kecil ia tau bagaimana susahnya menjadi rakyat, tapi disini ia menemukan sisi kegembiraannya. Ia sekolah tidak dengan sepeda, tapi jalan kaki. Ia sering melihat suasana kota, di umur 12 tahun dia belajar menggergaji kayu, tangannya pernah terluka saat menggergaji, tapi ia senang dan ia gembira menjalani kehidupan itu, baginya “Luwih becik rengeng-rengeng dodol dawet, tinimbang numpak mercy mbrebes mili”. Keahliannya menggergaji kayu inilah yang kemudian membawanya ingin memahami ilmu tentang kayu. Lalu ia berangkat ke Yogyakarta, ia diterima di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, jurusan kehutanan. Ia pelajari dengan tekun struktur kayu dan bagaimana pemanfaatannya serta teknologinya. Di masa kuliah ia jalani dengan amat prihatin, karena tak ada biaya hidup yang cukup. Kuliahnya disambi dengan kerja sana sini untuk biaya makan, ia sampai lima kali indekost karena tak mampu biaya kost dan mencari yang lebih murah. Hidup dengan prihatin membawanya pada situasi disiplin, Jokowi mampu menerjemahkan kehidupan prihatinnya lewat bahasa kemanusiaan, bahwa dalam kondisi susah orang akan menghargai tindakan-tindakan manusiawi, disinilah Jokowi belajar untuk rendah hati. (Sumber informasi: FB Kisah hidup jokowi)
       Berangkat dari kisah kecilnya, tak hanya sambutan yang positif, tapi sambutan yang negatif diterima oleh Jokowi karena sosoknya yang lebih mirip sebagai seorang "tukang" dibanding sebagai seorang Pemimpin. Nyirnyiran demi nyirnyiran diterima oleh Jokowi, tapi apa kata Jokowi “Hidup adalah tantangan, jangan dengarkan omongan orang, yang penting kerja, kerja dan kerja. Kerja akan menghasilkan sesuatu, sementara omongan hanya menghasilkan alasan”. Terlepas dari sindiran yang diterima, kehadiran Jokowi dalam Pemerintah benar-benar memutus rantai feodal (bahwa bukan hanya elite politik yang dapat menjadi Pemimpin tetapi juga seorang rakyat dapat menjadi Pemimpin) di Indonesia.
       Pada hari ini (20 Oktober 2014), Indonesia masuk dalam harapan baru di Pemerintahan Joko Widodo & Jusuf Kalla. Besar harapan rakyat terhadap Pemerintahan yang baru ini.  Antusiasme rakyat begitu terlihat saat mereka berbondong-bondong menyambut Presiden baru, Pesta Rakyat pun dimulai.
Selamat Datang dan Selamat Bekerja ‪#‎PresidenJokowi‬ & Jusuf Kalla (20 Oktober 2014). Jadi Pemimpin yang amanah bagi rakyat. ‪#‎TerimakasihSBY‬
(Kisah Joko Widodo sungguh memotivasi saya sebagai rakyat kecil untuk menjadi seorang Pemimpin yang rendah hati dan empati. Dia menjadi salah satu tokoh yang sungguh-sungguh mencerminkan Demokrasi di Indonesia. #Salam3jari #revolusimental    #Latepost #Referencefrommyotherblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar