Forum Betawi Rempung (FBR)
kembali berdemo di DPRD Jakarta, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat
(24/10). Mereka menolak Plt Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)
menjadi Gubernur DKI Jakarta. Dengan memakai atribut dan
berbondong-bondong mereka dengan lantang berteriak, “Tolak Ahok menjadi
Gubernur di Jakarta !!!”. Ratusan Polisi mempersiapkan pertahanan untuk
mengamankan DPRD Jakarta, mengantisipasi jika terjadi tindakan anarkis.
Pria kelahiran Belitung ini adalah keturunan Tionghoa dan seorang Kristen. Sebelum menjadi Wakil Gubernur Jakarta, Ahok merupakan anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat periode 2009-2014 dari Partai Golkar namun mengundurkan diri pada 2012 setelah mencalonkan diri sebagai wakil gubernur DKI Jakarta untuk Pemilukada 2012. Dia pernah pula menjabat sebagai Bupati Belitung Timur periode 2005-2006. Ia merupakan etnis Tionghoa pertama yang menjadi Bupati Kabupaten Belitung Timur, yang populer sebutan masyarakat setempat dengan singkatan Kabupaten Beltim.
Seperti yang kita ketahui, Ahok begitu keras dalam berbicara, bersikap, dan bertindak. Ia tidak suka jika ada orang yang bekerja tidak sesuai dengan prosedur dan menerima suap. Ia tidak segan untuk membentak bahkan memecat para pegawai negeri sipil (PNS) yang bekerja tidak benar. Namun hal inilah yang membuat sistem pemerintahan berjalan dengan seharusnya.
Lalu, apa yang salah dengan seorang Ahok ? Mengapa banyak ormas yang menentang kehadirannya ? Indonesia adalah Negara Demokrasi dengan Konstitusi Undang-undang Dasar 1945. Setiap Warga Negara Indonesia berhak menjadi Pemimpin. UUD tidak melarang ras, tidak melarang agama, tidak melarang suku apa pun untuk menjadi pemimpin.
Dan di hari ini, Forum Betawi Rempung (FBR) berdemo, turun ke jalan dengan berbagai atribut dan berteriak-teriak menolak Ahok. Jika ada sekolompok orang berdemo, itu adalah hal yang biasa. Namun, yang tidak biasa dalam hal ini adalah ketika seorang bapak menggendong anak dan putrinya dengan membawa atribut bendera yang bertuliskan kaligrafi dan penolakan terhadap Ahok. Sunggu ironi ketika seorang anak kecil yang masih polos telah menerima doktrin kebencian dan penolakan di benaknya.
Sungguh Warga Indonesia memerlukan pendidikan dan revolusi mental agar terjadi perubahan pola pikir dan rakyat menjadi lebih cerdas dalam menerima dan menelaah pesan. Saya sungguh berharap agar Presiden Jokowi membawa perubahan yang signifikan terhadap Negara Indonesia. Dan saya sangat mendukung Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta (meskipun saya tinggal di kota Bekasi). Pemimpin yang benar adalah Pemimpin yang bersuara lantang membela kebenaran dan tidak takut menegakkan kebenaran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar