Music

Minggu, April 26, 2015

Reward & Punishmen untuk pelaku kejahatan

Jakarta, 27 April 2015

Maraknya aksi begal dan kejahatan lainnya membuat saya berfikir "sungguh bobrok moral, nurani, dan pemikiran si pelaku." Namun, disisi lain saya pun berfikir "apakah ini seutuhnya kesalahan si pelaku begal? melihat usia mereka yang sebenarnya masih sangat belia".

Beberapa contoh kecil yang bisa berdampak fatal :
Kasus pertama 
Ketika saya mengetahui seorang anak kecil berusia 13 tahun mencuri disebuah warung dekat rumahnya. Beruntung dia hanya dimarahi oleh si pemilik warung.

Kasus kedua
Ketika saya mengetahui seorang anak berusia 17 tahun ketika mencuri tabung gas disebuah warung yang jauh dari rumahnya (namun masih tetangga). Ia tertangkap tangan sedang mencuri dan akhirnya dihakimi oleh warga setempat.

MIRIS BUKAN ?!

Sungguh malang nasib yang menjadi korban begal atau kejahatan lainnya ketika pelaku berhasil menjalankan aksinya. Disisi lain, sungguh malang nasib si pelaku begal atau kejahatan lainnya jika aksinya tertangkap tangan oleh masyarakat karena si pelaku akan mengalami aksi main hakim sendiri oleh masyarakat (contoh pelaku begal yang pernah dibakar hidup-hidup oleh masyarakat). 
Melihat hal ini, seharusnya ini menjadi instrospeksi bagi kita sebagai individu yang berada dalam masyarakat. Terkhususnya ini juga menjadi tanggung jawab bagi satuan terkecil dalam masyarakat yaitu, keluarga. Pentingnya penanam kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan spiritual (SQ), dan kecerdasan emosional (EQ) terhadap seorang anak itu dimulai dari keluarga. 
Bagaimana kepribadian si anak terbentuk dan bagaimana si anak bersosialisasi diluar lingkungan keluarga semua dimulai dari dalam keluarga. Keluarga harus menjadi figur yang mendominasi dalam pembentukan karakter anak. Tapi untuk mengajarkan kecerdasa IQ, SQ, dan EQ tentunya orang tua pun harus memilik pondasi yang kuat, memilik pengetahuan terhadap tiga hal tersebut. 
Saya tidak tahu apakah pernah ada sosialisasi atau seminar yang mengajari orang tua untuk mendidik anak, meski saya pernah membaca bukunya. Karena menurut saya, orang tua pun perlu diedukasi dalam mendidik anak. Mendidik anak terlihat seperti sepele bahkan sering disepelekan, padahal sesungguhnya itu sangat penting. Saya juga sering melihat orang tua muda (seusia saya, 23 tahun) banyak yang kurang mengerti cara mendidik anak dan menerapkan kecerdasan IQ, SQ, dan EQ. Padahal anak adalah aset Bangsa untuk memajukan Bangsa.

Sungguh sedih ketika seorang anak diperlihatkan sebuah hukuman dari perbuatan jahat mereka (yang secara tidak langsung diajarkan untuk menghukum orang bersalah), namun mereka tidak mendapatkan sebuah "reward" dari perbuatan baik mereka.
Di Negara ini kita sering melihat "reward" untuk anak-anak yang pintar, yang memiliki kecerdasan intelektual diatas rata-rata. Dan kita tidak melihat kebaikan anak-anak yang kurang memiliki kecerdasan intelektual.

Ini menjadi perhatian siapa???
saya belum mengerti bagaimana menjawabnya.
Namun, hukuman demi hukuman bukanlah satu-satunya solusi untuk membuat seorang pelaku kejahatan menjadi jera.
Ini pun menjadi perhatian bagi pemerintah untuk mengkaji ulang, apakah hukuman (penjara seumur hidup atau hukuman mati) dapat membuat si pelaku atau "calon" pelaku akan jera.

Hukum itu harus adil.
Dan untuk menegakkan hukum itu setiap individu harus diperkenalkan apa yang baik/buruk, sebab/akibat, dan harus diperkenalkan apa yang didapatkan dari berbuat baik dan berbuat jahat.

Seorang anak harus ditanamkan kecerdasan IQ, SQ, dan EQ
Orang tua harus diedukasi untuk mendidik anak
Dan pemerintah harus memperhatikan pendidikan dan penanam moral dalam masyarakat.

(masih bersambung)